Walikota Banda Aceh : LKMS Mahirah ujung tombak pemberantasan Rentenir Pemurtadan.

Banda Aceh, Dikejutkan dengan berita viral di Media dan medsos berkaitan dengan ulah rentenir di berbagai daerah di Aceh, Walikota Banda Aceh terpanggil dan mengharapkan kepada masyarakat tentang kejadian ulah rentenir pemurtadan agar tidak terjadi di Kota Banda Aceh. kata H.Aminullah Usman SE.Ak.MM, Kondisi ekonomi keluarga sebut saja nama samaran yang tidak mau disebut namanya Kumbang dan Bunga semakin berantakan. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan pun kadang sulit. Sesulit apapun, mereka tetap mengutamakan masa depan dan kebutuhan buah hatinya. “Prinsip saya, orang tua sehari nggak makan itu wajar, tapi kalau buat anak gimana caranya biar bisa makan. Pokoknya yang penting masa depan anak,” tekadnya. Di ujung jalan buntu yang benar-benar darurat, mereka dihadapkan pada buah simalakama, yakni yayasan non Muslim dan lintah darat (rentenir). Ya Allah, demi menyambung hidup dan masa depan sekolah sang anak, mereka harus berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama menjerumuskan dalam pilihan sulit. Bantuan non Muslim bisa menyeret ke dalam kemurtadan, sedangkan bantuan rentenir adalah dosa besar yang setara dengan dosa zina anak dengan ibu kandung. Seperti pepatah bak makan buah simalakama “Minjam uang sama teman katanya nggak ada, pinjam sama saudara juga nggak ada. Yang ada rentenir,” ungkapnya. ..Ya Allah, demi menyambung hidup dan masa depan sekolah, mereka harus terjerumus dua pilihan sulit: kemurtadan dan dosa besar... Selain dosa besar, hutang rentenir/riba juga menjerumuskan kepada kebangkrutan dengan pembungaan yang tinggi minimal 20 persen. Jika telat membayar maka setiap bulan pokok hutang dan bunganya bisa berbunga lagi dan seterusnya hingga mencekik leher. Jika hutang kepada rentenir sebesar 6 juta rupiah, maka dana yang diterima hanya 5,4 juta rupiah karena dipotong 10 persen untuk biaya administrasi. Di tengah perjalanan hutang riba, bila jatuh dalam kondisi sulit dan beberapa kali menunggak angsuran, maka hutang bisa naik berlipat-lipat hingga nominal bunga perbulan saja mencapai 1,5 juta rupiah. Nominal dari akumulasi hutang pokok, bunga, denda dan bunga berbunga yang tidak masuk di akal. Dengan perkiraan penghasilan jualan kue sebesar 70 ribu perhari, mustahil Kumbang dan bunga bisa membayar hutang dan bunga kepada rentenir tepat waktu. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang layak, baik biaya hidup maupun kebutuhan sekolah anaknya, kumbng butuh bantuan modal usaha berjualan kue goreng keliling. Dibutuhkan modal usaha sebesar 6 juta rupiah untuk pengadaan gerobak, sepeda ontel, penggorengan, peralatan memasak, biaya awal pembelian bahan baku dan lain-lain. “Saya sangat berharap kepada donatur LKMS Mahirah sekiranya dapat membantu saya untuk modal usaha dari bahan­­-bahan, peralatan dan gerobak. Agar saya bisa mandiri berdagang dan mencukupi kebutuhan hidup keluarga yang layak,” iba kumbang.